Kamis, 19 Januari 2012

Kinan's Diary : "and the story goes..."

--24 September 2011--
Kinan membuka pintu kontrakan mungilnya, seolah tidak sabar mempersilahkan udara pagi menyapa wajahnya.
Ini sudah memasuki hari ke-14 bagi penelitian Kinan. Bukan sih, sebenarnya Kinan hanya ikut ke dalam tim penelitian dosennya tentang kebudayaan masyarakat Tengger di sebuah desa kecil di Pasuruan, Jawa Timur.
Hari ini, bagi Kinan adalah hari biasa saja. Tapi justru menjadi tidak biasa ketika ia mendapati beberapa sms dan telepon masuk tadi malam, ketika memasuki jam 00.01 WIB. Seperti yg sudah ia duga, pengirim sms2 itu tak lain adalah orang yang telah lama ia 'abaikan'. Hemmhh...di recent call saja ia masih melihat nama itu. Dia yang namanya tak boleh disebut.
Kinan memakai kaos kaki dan sandal gunungnya. Tracking?. Nggak,lah... Nggak sepagi ini juga. Kinan hanya ingin menikmati keindahan panorama Tengger yang masih asri. Tidak seperti kota tempat ia menuntut ilmu.

Baru saja ia melangkahkan kaki keluar dari halaman rumahnya, wajahnya mendadak berubah ketika menangkap sosok yang sudah lama ia kenal. Orang yang tidak ingin dilihatnya saat ini.
"Pagi, Kinan..." senyumnya yang khas menyapa Kinan yang tak terdefinisikan bagaimana roman kagetnya.

"Kamu? ngapain disini?" Kinan berusaha menahan nada bicaranya, tak ingin terkesan tinggi.

"Iseng. Ya ga mungkin lah aq nyasar sejauh ini dari Malang." Laki-laki itu masih saja tersenyum. Bahkan seolah menahan tawa melihat betapa lucunya muka Kinan yang terkaget-kaget seperti sekarang ini.

"Trus? tujuannya kemari?" Kinan masih saja mengerjap-kerjapkan matanya, berharap makhluk di depannya itu hanya ilusi dan menghilang setelah ia membuka mata.

"hahaha...Kinanti..Kinanti, kamu masih aja lucu ya, kayak biasanya... Ya apalagi tujuannya kalo ga nemuin kamu? Emang aku punya alibi lain?"
Bego! Kinan merutuki dirinya sendiri. Ngapain juga ditanya. Selama ia mengenal orang ini, setahu dia Adrian memang nggak punya sodara di Pasuruan dan sekitarnya.

"Trus, kamu tahu alamatku dari mana?" Kinan sudah tidak dapat menyembunyikan wajah tidak sabarnya. Tidak sabar melihatn orang ini segera enyah dari pandangannya.

"Menurutmu?" Adrian masih saja menggodanya,"intuisi, neng...pake perasaan"

Hueekk!!, Kinan hampir saja mual mendengar gombalan ga mutu itu sekali lagi. Emangnya dia bakalan percaya. Iya kalo Kinanti jaman baheula, yg dgn mudahnya percaya dengan kalimat-kalimat ga logis kayak dulu. Emang jantung ada GPS-nya apa?? Atau..Kinan mulai curiga, jangan2 ada yang memasukkan chip tertentu dalam tas-nya, sehingga Adrian dengan mudahnya mendeteksi lokasinya. Hahh...Gila! emang-nya ini film action hollywood?? KInan menggoyang-goyangkan kepalanya.

"Ehh, emangnya enak, ya ngobrol sambil berdiri begini?" Adrian buka suara lagi.

"Emang kamu berniat berapa lama disini?" Kinan keluar jutek aslinya.

"Deuu...segitunya kalo ngusir. Nggak kasian apa, aq naek motor bgini dari jauh, bukannya disuruh duduk dlu...malah udah ngusir2" protes Adrian.

Lalu Kinan mengambil posisi duduk di kursi kayu panjang di halaman rumahnya. Tanpa disuruh, Adrian juga duduk disamping Kinan. Menyadari hal itu, Kinan bergeser menjauh.
"Iya, iya...aq juga ga akan deket2 kok sama kamu. Ngerti deh, bukan muhrim, kan? Tapi jangan minggir2 dong,ntar kamu jatoh lagi"

"Gini aja udah bisa timbul fitnah tau" ucap Kinan, masih sama ketusnya.

"Kamu kenapa sih, ga pernah baik sama aq? Masih panjang juga list kesalahanq sama kamu. Permintaan maafq tiap hari itu ga bisa juga menebusnya?" Adrian protes lagi, mulai tidak sabar dengan sikap Kinan.

Kinan diam.

"Oke, sekali lagi. Aq minta maaf. Aq bingung aja, seberat apa sih dosaq sama kamu, sampe kamu ga bisa lagi berubah jadi baik sama aq? Ini Kinanti yang dulu aq knal bukan sih? yg selalu menanankan nilai-nilai kebaikan sama aq, mengingatkan untuk terus bersabar klo aq mulai tempramen" kali ini Adrian benar2 panjang-lebar. Kinan agak terkejut. Laki-laki di sampingnya kini sudah berubah. Bukan lagi kapten basket yang dulunya cool dan terkesan acuh, tapi justru sekarang seperti salesman yang ga brenti2 muji dagangannya.

"Iya, trus sekarang maunya apa?" Kinan menata kalimatnya. Juga nada suaranya. Dia ambil 1 oktaf sedikit lebih rendah.

"ga banyak kok...cuma mau ngasih ini" ADrian mengambil kotak warna pink dari tasnya. "Selamat ulang tahun, kamu meski di pedalaman gini masih inget tanggal kan?" Adrian mulai melucu lagi, tapi tak juga berhasil membuat Kinan tertawa.

Kinan ragu menerimanya. Sebenarnya hal seperti ini mungkin sudah sangat wajar baginya. Setiap tahun, orang ini selalu membuat 'kejutan' yang alhirnya tak mengejutkan lagi buat Kinan. Tapi, dibela2in menemuinya dengan perjalanan yang cukup berat dengan sepeda motor, sendirian. Yang ini yang belum terpikir oleh Kinan hingga 15 menit yang lalu.

"Kamu masih nggak mau nrima,Kin?" Muka Adrian memelas.

Akhirnya Kinan membuka tangannya, meraih kotak dari tangan Adrian itu. Terpaksa.

Rrrr...Rrrr... Ponsel di tangannya bergetar. Dari Ovy.
"Kak, Kak Adrian ke tempat kakak sekarang?" begitu bunyi sms-nya.
Dahi Kinan berkerut, memandang layar HP-nya dan Adrian bergantian. Adrian salah tingkah. Oohh, sepertinya Kinan tau sekarang kenapa Adrian bisa ada disini. Bagaimanapun, lokasi penelitiannya itu jauh dari kota 20km dari kecamatan, 10km dari jalan raya. Dengan medan seperti ini, dan keterbatasan akses informasi, bagaimana bisa Adrian dengan mudah menemukannya??

Kinan membalas sms adiknya,"Kamu kasih tau Adrian alamatku?? Tega ya kamu!" dengan teramat kesal dia memencet tombol OK di layar HP touchscreen-nya. Adrian menatapnya bingung.

"Kamu sogok pake apa Ovy biar mau kasih alamatq disini?"

Adrian semakin salah tingkah,"Ovy kasih tau kamu?? Emm...Kin, please ya..jangan marahin Ovy. Dia juga terpaksa kok kasih tau aq. Sebenernya dia keceplosan aja sie waktu cerita kamu ada penelitian disini, akhirnya aq mohon dia ngasih alamat kamu. Dia cuma ga tega aja kok sama aq, jangan benci adik kamu ya?"

Ihh, pede amat! yang ada juga gue benci sama lu!, batin Kinan.
"Yauda, sekarang kan tujuan kamu uda terlaksana kan? Ada lagi?"
Sumpah. Kinanti sepertinya sudah agak lupa tentang adab-adab kesopanan menghadapi tamu kalo tamunya seperti ini.

"Emm...sekalian aq mau pamitan, Kin" nada suara Adrian melemah lagi.

Kinan sudah malas mendengar yang seperti ini. Bukan baru sekali Adrian memakai teknik seperti ini untuk meruntuhkan pertahanannya.

"Kemana?" Hufft! kenapa mesti tanya juga? teriak batinnya.

"Aku diterima kerja di luar jawa, kemungkinan berangkat bulan depan"
Oohh, wajar sih..dia kan udah lulus. Trus kenapa?

"Sebenernya ada tawaran juga sih di Jawa. Tapi...mungkin emang lebih baik kalo aq pergi jauh.
Menjauh dari orang-orang yang tidak menginginkanku lagi"

Naahhhh...tu dia tau!

"Kenapa merasa seperti itu?" Kinan berusaha mendatarkan suaranya. Supaya Adrian tidak terlalu berharap bahwa Kinan akan mengkhawatirkan kepergiannya.

"Hemmh...aq blom cerita ya, kalo rumah tangga orang tuaq menjelang kehancuran?" suara Adrian tertahan, seperti tercekat di tenggorokan.

Gimana mau tau, baca sms kamu aja males. pikir Kinan. Eh,tapi maksudnya...Divorce??
Kinan mengubah arah pandangannya, yang sedari tadi membuang muka dari laki-laki itu, jadi menatap Adrian bulat-bulat. Memastikan dia tidak salah dengar.

Dan Adrian mulai menceritakan kondisi keluarganya. Kinan menjaga sikapnya, agar tetap tidak terkesan 'terlalu peduli' dengan cerita Adrian. Tapi rencana perceraian orang tua Adrian mau nggak mau membuat dia simpati juga.

"Kamu juga seneng kan, Kinan...Karena ga harus melihatku lagi?"

Pertanyaan jebakan.

"Yaa...yaa, nggak segitunya juga sih. Aku emang menghindar dari kamu, tapi bukan berarti aku membenci kamu kok.." Kinan terbata-bata.

Nah,loo...kenapa jadi kontras dengan hatinya gini??

Adrian langsung turun dari kursi kayu dan bersimpuh di depan Kinan. Tangannya dijulurkan.
"Eh, mau apa kamu?" Kinan waspada. Spontan menarik tangannya kebelakang tubuhnya.

"Makasih ya Kin, kamu masih peduli sama aq. Semenjak kaluargaku bermasalah, aku udah kehilangan kepercayaan bahwa masih ada yang oeduli sama aq. Ayahku meninggalkan kami karena wanita lain, ibuku yang sudah sangat lelah memutuskan untuk menggugatnya untuk bercerai, tanpa memikirkan bagaimana perasaan anak2nya"

Merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini, Kinan menggeser tubuhnya menjauh dari hadapan Adrian, karena tubuh mereka berhadapan dengan jarak yang tak lagi jauh.

"Emm..yauda...Aq nggak tau bisa bantu apa. Yang jelas, sebagai temen kamu, aq cuma mengingatkanmu untuk bersabar. Aq yakin, ibu kamu, yang kulihat disini sebagai 'korban' bukannya benar2 tak memperdulikan kamu da yang lainnya, wanita itu pasti akan selalu mengedepankan perasaannya dan orang2 di sekelilingnya. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Khusnudzon aja, mungkin ini yang terbaik. Kalo mau dipertahankan juga kasian ibu kamu, kan? tersiksa batinnya. Tapi kamu juga jangan membenci ayah kamu, mungkin beliau khilaf. Bagaimanapun lebih baik menikah lagi daripada terjadi perzinaan.." Kinan memelankan kalimatnya terakhir, takut menyinggung lawan bicaranya itu.

Adrian tersenyum kecut.
"Aq uda nyangka kamu bakalan ngomong seperti itu, Kin. Kamu selalu mengajarkanku untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang positif. Itu yang aq salut dari kamu. Tapi maaf, mungkin aq blum bisa sesempurna itu menilai ujian ini. Bimbing aq terus ya Kin?"

Lahh, kok...?? jangan2 salah paham orang ini!, Kinan terdiam, tapi pikirannya protes.

"Hemm...mesti sabar ya Kin? Okelah, aq akan sabar, Insya Allah...sesabar aq menunggu kamu. 7 tahun itu bukan waktu yang sedikit lho, Kinanti. Kamu mau sampai kapan menguji kesabaranku?" goda Adrian.

Kinan berjengit dari kursinya. Merasa ini benar2 tak nyaman.
"Jangan berpikir yang aneh2! Jangan berharap banyak ya...Aku, aku..cuma teman kamu disini" Kinan salah tingkah. Merasa menyesal menasehati laki-laki itu barusan.

"Hahaha, Kinanti..Kinanti...aq suka lihat kamu salah tinglah gini. Aq becanda aja kok. Aq juga ga maksa kamu sekarang. Kamu masih punya tanggungan lulus kan? Itu aku sudah tau. Makanya, sembari menunggumu lulus, aku berkarir dulu. Ok, tunggu aku tahun depan ya! See you! " Adrian menyalakan motornya, dan melaju bersama suara deruman motor yang semakin lama semakin hilang.

Kinan menghela napas panjang. Kenapa seperti ini, Yaa Allah...??

"Kurang apalagi sih, dari Adrian? dia sudah cukup sabar mnunggumu, lho Kin.." Suara Hilda mendengung2 lagi di telinganya.

Ahh! Dia itu sudah membuat Kinan trauma. Cinta pertama yang menyakitkan. Bukan untuk Kinan, tapi orang tuanya. Yang tak pernah sedikitpun dibantah ucapannya oleh Kinan. Yang sangat dia cintai dan hormati. Yang menjunjugnya sudah menjadi kewajibannya setelah Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia penyebab untuk pertama kalinya satu-satu ibu yang Kinan sayangi menangisi karena pemberontakan Kinan. Dia penyebab ayah Kinan, laki-laki paling sabar dalam hidupnya, menjadi merah mukanya menahan amarah karena tak percaya putri kesayangannya telah menghancurkan kepercayaannya. Dia yeng membuat Kinan merasa sangat bersalah karena telah memutuskan untuk berpacaran dan mengabaikan nasehat2 orang tuanya. Dia itu Adrian.

Bukan hanya itu. Kenyataan yang membuka mata Kinan membuatnya tak sekedar illfeel tapi tlah mulai membenci Adrian. Kebohongan demi kebohongannya. Janji2 palsunya. Gila! Kinan jadi tak habis pikir bagaimana bisa dia jatuh hati pada laki-laki itu!

Astaghfirullahaladziim...
Kinan berusaha menguasai dirinya dari bisikan iblis yang mengomporinya. Adrian juga manusia biasa. Dia bisa khilaf. Kinan tak ingin terlalu membencinya kini. Meski ada sedikit keraguan tentang orisinalitas gambaran keluarganya saat ini. Tapi Kinan tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa dia iba. Adrian adalah teman lamanya. Dia masih menyayanginya. Sayang karena Allah. KArena dia seorang muslim juga. Bagaimanapun, dia ingin Adrian berubah. Bukan untuk Kinan, tapi untuk dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar lagi. Ovy lagi.
"Kak, maafin aq yaa... :-("

Kinan membalas,"Iya. Udah gpp. Lain kali jgn diulang ya sayang.. Km tau kn adrian bagaimana, dan bagaimana juga kakak sama dia?"

Tak lama Ovy membalas lagi, "Iyaa...maaf :-( Eh, Kak...Kak adrian sms lagi nie..ktanya 'haduuh, perjalanannya lama tapi ga imbang sama waktu ktemuannya', hihihi...pgen tak sukurin aja tu kak, tapi jgn dehh...enaknya dibales apa ya kak?"

Kinan menghela napas sekali lagi. Dasar Abege!, rutuknya. Dia harus menyadari bahwa adiknya masih 15 tahun dan akan sangat tertarik dengan cerita2 picisan semacam ini. Bagi Kinan yang sudah beranjak kepala dua, hal seperti ini bukan lagi hiburan, malah jadi beban pikiran yang kadang masih saja menghantuinya.
Kinan memutuskan untuk kali ini tidak membalas sms terakhir dari adik semata wayangnya. Baginya sudah cukup kejadian pagi ini membuat dia akan sulit membangun mood dia seharian.

Hufft...sudahlah Kin, Adrian itu bagian dari masa lalumu. Bagaimanapun kamu lari memungkirinya, dia tetap saja pernah hadir dalam hidupmu. Tapi yang lalu biarlah berlalu. Dan kisah baru sudah menantimu...

Kinan mengambil handuknya. Berharap siraman air yang dipakainya mandi itu mampu melunturkan kegalauannya pagi ini.

Senin, 09 Januari 2012

Yang Terbaik Bagimu...



Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati


Minggu, 08 Januari 2012

NIce quotes...#2

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yg tegak di puncak bukit,Jadilah belukar,tetapi belukar yang baik,yg tumbuh di tepi danau,Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,jadilah saja rumput,tetapi rumput yg memperkuat tanggul pinggiran jalan,Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,jadilah saja jalan kecil,tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Pada dasarnya manusia itu diciptakan dengan sejuta potensi. Namun, Einstein saja mengatakan bahwa, kebanyakan manusia hanya memanfaatkan 10% dari kekuatan otaknya. Bayangkan jika kita mampu memanfaatkan lebih banyak potensi kita! Mulailah dengan mensyukuri apa yg kita miliki. Merasa kurang itu boleh, jika konstruktif. Karna manusia itu makhluk yg senantiasa berproses, belajar. Tapi jika perasaan kurang itu hanya berujung pada rasa iri berlebihan dan menumbuhkan benci. Tepis rasa itu dan berpuas dirilah dgn apa yg kamu miliki saat ini. Alhamdulillah...

Bagaimanapun kondisinya, dimanapun tempatnya, teruslah memposisikan diri menjai bagian yg konstruktif, membantu dgn ap yg kita bisa lakukan, jikalau memang tak ada yg bisa diusahakan (dgn tenaga, pikiran, dll), bantulah dengan dukungan moril dan doa yg ikhlas untuk hasil yg terbaik.

Jika ada orang yang senantiasa menyiksa diri dengan memaki dirinya sendiri, menganggap dirinya tak berguna. Ingatlah akan ancaman Allah ttg orang yang ingkar nikmat. Na'udzubillah...

Selasa, 03 Januari 2012

Jingga di Penghujung Senja




"Dasar lu anak kagak tau diuntung...uda baek gue mau ngurusin anak2 bandel macam lu berdua, giliran disuruh kerja aja malesnya kgak ketulungan. Udah, pergi aja lu sono yang jauuh...kagak usah ngeliatin batang idung lu berdua lagi ke gue. Pergiii!!!" terdengar suara lengkingan tinggi berkepanjangan dari ujung perkampungan kumuh di sudut kota metropolitan, Jakarta.


Dua orang gadis berusia 8 dan 6 tahun itu tengah berjalan terseok-seok menyusuri pinggiran kota Jakarta. Kata orang kejamnya ibu tiri tak lebih kejam daripada kota Jakarta. Tapi dalam hati kedua bocah itu saat ini memanjatkan doa, bahwa ungkapan itu tidak benar. Mereka masih berharap, ibu kota ini masih menyimpan iba pada anak piatu yang baru saja terusir dari rumah mereka sendiri itu.
Salah seorang gadis yang lebih muda itu berhenti dari perjalanannya. Sang kakak ikut berhenti. "Jingga kenapa?"
"Jingga capek, kak...sampai kapan sih kita mau jalan kaki begini?" keluh si adik.
"Sampai kita ketemu tempat berteduh, sayang... Jingga masih kuat kan?" Si gadis sulung itu meletakkan tangannya di kepala adiknya.
"Jingga lapar kak..." kini si adik mulai merengek, memegangi perutnya.
Sang kakak yang sebenarnya merasakan hal yang sama, meraih kedua pundak adik semata wayangnya. "Sabar ya, sayang...sebentar lagi. Itu, kamu lihat ada pertokoan kan? kita istirahat disana, ya? Kakak janji akan cari makan setelah kita bisa istirahat disana. Setuju?"
Jingga mengangguk lemah.


Si gadis sulung yang bernama Senja itu memunguti karton2 besar yang ia temukan di depan teras toko elektronik tempat mereka berteduh. Meratakannya, menggelarnya untuk istirahat mereka berdua yang telah 3 jam berjalan tanpa tujuan dari rumah mereka sendiri.
Senja menidurkan adiknya di pangkuannya. Meninabobokkan adik kesayangannya seperti biasa yang ia lakukan di rumah. Hanya saja sekarang sedikit berbeda. Mereka tidak lagi berada di kamar yang meski sempit tapi nyaman. Tapi di emperan toko. Sudah bisa dipastikan, angin malam yang berhembus nanti akan dengan mudahnya menyelisip masuk melalui pori-pori kulit mereka. Bahkan jikalau nanti hujan, maka jelas mereka akan basah kuyup, tak mampu melindungi diri mereka dari guyuran air langit.
Ahh, tapi sudahlah. Yang nanti terjadi, terjadilah...toh belum pasti juga itu terjadi. Yang pasti sekarang rasa lelah yang amat sangat, menyergap, membuat mata Jingga berat dan menutup meninggalkan malam. Tak perduli lolongan anjing penjaga toko emas seberang jalan mengusik mereka. Jingga sudah asik melanglang buana dalam mimpinya.

Sementara Senja yang duduk bersandar pada tembok toko elektronik itu tak juga dapat memejamkan matanya. Bukan suara anjing besar yang menyalak itu yang mengganggu pikirannya. Tapi bayangan wajah seram ibu tirinyalah yang menghantui relung pikirannya.


"Babe mau kawin lagi. Lu setuju kagak?" tanya laki-laki separuh baya yang tertulis namanya di akta kelahiran Senja dan Jingga itu.
Senja diam. Tak mampu membantah, hanya saja ada tolakan halus di dalam dadanya. "Kenapa, Be?"
"Lu kagak tau aje...hidup sendiri tanpa Nyak lu itu bukannya gampang. Gue bukannya berat ngurusin lu sama adek lu. Tapi, rumah ini sepi kalo kagak ada perempuan yang dampingi babe, juga ngerawat lu berdua."terang laki-laki itu sambil menghirup kreteknya.
Senja enggan berlama-lama di teras kecil rumahnya itu. Hatinya tak lagi nyaman dengan pembicaraan ini. Dia pamit masuk ke dalam rumahnya dengan takzim.
"Eh, lu...Lu mau kagak punya Nyak lagi?"
Senja berhenti melangkah, tapi tak juga berbalik menghadap ayahnya.
"Ini semua juga buat ngebahagiain elu berdua, bukan cuma buat babe" kilahnya.
Senja mengambi napas panjang, "Terserah babe" jawabnya pendek.
Dan laki-laki itu tersenyum puas atas jawaban putri sulungnya itu. Perduli setan apakah jawaban itu ikhlas atau tidak, yang jelas malam ini dia akan menemui perempuan yang ia janjikan kebahagiaan bersamanya itu.



"Kak...kak, kakak belum tidur?" Jingga membuyarka lamunan Senja.
"Belum. Kamu..." Senja menghentikan kalimatnya karena tak mau mengingatkan lagi bahwa perut mereka memang kosong seharian ini. "Kamu kenapa bangun?" Senja mengalihkan pertanyaan.
"Jingga inget Nyak, kak... Kira-kira, kenapa ya Allah ngambil nyak dari kita? Allah marah sama kita? Apa Allah nggak sayang sama Nyak?" tanya gadis 6 tahun itu lugu.
"Justru, Allah sayang banget sama Nyak, makanya Allah ambil Nyak duluan. Allah pengen lindungi Nyak dari susahnya hidup" terangnya bijak.
"Tapi Allah kan ga sayang sama kita. Nyatanya, Allah ngasih nyak baru yang galaknya minta ampun. Nih, Jingga kemarin disambit kemoceng sama dia. Ugghhh...sakit,kak" Jingga meratap.
"Sabar ya jingga. Yang penting kan sekarang kita udah nggak disakitin lagi sama Nyak Tiwi. Udah, jangan punya pikiran jelek sama Allah. Nggak baek"
"Kak, Nyak ada dimana ya sekarang? Hidupnya enak nggak?"
Senja menghela napas. Bingung mesti seperti apa menjelaskannya.
"Nyak di tempat enak sekarang. Tempat yang kita nggak bisa liat..."mata Senja menerawang. Menembus pekatnya langit malam. Sesekali menarik napas dalam. Dia membayangkan, bagaimana kalau ayah mereka tahu putrinya tak lagi ada dirumah? Marah kah pada istri keduanya? Atau diam saja saat istrinya itu berkilah putrinyalah yang tak bisa diatur. Kemungkinan kedua inilah yang paling sering membayangi pikirannya. Sepertinya ayah mereka lebih sayang pada istrinya daripada 2 buah hati titipan Ilahi ini. Dan itu cukup membuat dada Senja sesak, dan dia pun mulai terisak dalam diam.


"Heh! anak-anak gelandangan! ngapain lu ngotorin teras gue?? pergi sono lu! bisa2 pelanggan gue jadi males masuk gara-gara lu berdua. Gih, sono jauh-jauh..." si empunya took datang dan langsung mengusir mereka.
Senja yang terbangun karena goncangan keras di bahunya segera tersadar. Dia tepuk2 pipi adiknya, membangunkannya. Jingga masih mengerjap-kerjapkan matanya, tapi segera berdiri karena rupanya si pemilik toko sudah datang kembali dengan sapu di tangannya. Mereka lari tunggang-langgang, seperti kucing liar yang terpergok mencuri ikan asin.

Hari kedua, setelah terusirnya kakak beradik itu dari rumah mereka sendiri.
Kini mereka berada di tempat yg lebih nyaman. Setidaknya tidak di pelataran toko elektronik yang pemiliknya tak bisa lagi memanusiakan mereka. Di teras bekas bioskop di pusat tempat kuliner di kota besar itu. Perut mereka pun tak lagi kosong. Senja menemukan beberapa makanan sisa di tumpukan karton pizza di ujung jalan itu. Dan tak ada yang bisa mereka lakukan lagi, selain membiarkan hari lewat begitu saja. Hanya berharap mereka bisa melalui hari ini, besok dan seterusnya bersama. Ya, mereka masih terlalu kecil untuk mengerti kejamnya hidup ini.


Senja terbangun, karena menyadari adiknya tak lagi nyenyak dalam tidurnya.
“Babe…sakiit” rintih si kecil Jingga.
“Jingga kenapa? Kamu mimpi buruk apa?” Senja cemas. Ia membetulkan posisi kepala adiknya dalam pangkuannya. Masya Allah! Badannya panas sekali! “Jingga, jingga…sadar sayang. Apanya yang sakit?”. Ia panik. Bingung dengan apa yg harus dilakukan. Wajah jingga di depannya sudah sangat pucat. Bibirnya membiru. Tangannya dingin. Pelan ia membuka kelopak mata adiknya, bola hitamnya naik. Adiknya sekarat! Dia hamper menangis, ingin teriak, tapi sepertinya tidak akan membantu.
Dia letakkan kepala adiknya di atas karton yang mereka pakai untuk alas. Sedetik kemudian Senja sudah lari, meninggalkan adiknya untuk mencari bantuan.
“Pak, pak..adik saya sakit keras. Bisa bawa ke rumah sakit?” pintanya pada seorang tukang ojek yang tampak sendiri di pangkalannya.
“Ahh, lu mana ada duit buat bayarin gw. Klo sakit, noh…di depan ada apotik, lu minta obat aj kesana. RS mana mau nrima gembel kayak lu?” maki si tukang ojek.
Jingga melihat yg ditunjuk bapak itu. Di seberang jalan memang ada apotik, mungkin mereka mau berbaik hati.
“Mbak, ada obat untuk demam tinggi, wajah pucat, badan menggigil?”tanyanya masih dalam kepanikan.
“untuk usia berapa dik?” Tanya karyawan apotik itu kembali.
“6 tahun”
Tak lama, si mbak mengambil obat dan mulai menuliskan aturan minumnya. “25 ribu,dik…”
Senja bingung, karena memang tak ada uang sepeser pun di kantung bajunya.
“Tapi mbak, saya nggak punya uang?”
“Yg bener aja kamu dik. Masa beli obat nggak pake uang?” si mbak mulai gusar.
“Maaf, mbak..tapi adik saya sekarat. Tolong…” Senja mulai menangis. Tapi karyawan itu tak bergeming.
“Maaf juga dik, tapi aku Cuma kerja disini. Sama-sama orang susah. Coba kamu minta dikasihani orang-orang gedhe diluar sana, kali aja ada yg mau belikan obat buat adikmu. Maaf, aku juga banyak kerjaan” usirnya dengan halus.
Senja mengerti. Dia segera menghilang dari pandangan karyawan itu. Di seberang jalan, dia berpikir keras. Tapi bagaimana pun dipaksa, dia bingung harus bagaimana untuk mendapatkan uang segera. Dia mulai mengemis pada orang-orang bermobil di parkiran sebuah food-court di ujung jalan. Tapi jangankan member, menggubrisnya pun tidak. Yaa, Allah…bayangan akan kehilangan orang terkasihnya kembali hadir dalam matanya. Jangan sekarang, Tuhan. Jangan adik saya…bisiknya.
Sementara itu, seorang ibu dengan tas terbuka di bahunya masih sibuk menenangkan anaknya yang merengek minta donat. “Iya, iya sayang…mama mau ambil dompet dulu di mobil ya? Jangan nakal dong”. Tapi anak laki-laki 4 tahun itu nggak mau tahu.


Mata senja tertumbuk pada benda berwarna merah dalam tas ibu-ibu kaya itu. Ada perang berkecamuk dalam otaknya. Pak kyai di kampungnya selalu mengajarka untuk jujur dan jadi anak yang sholehah. Tapi adiknya sedang bergulat dengan maut disana, senja tak bisa merelakan adik satu-satunya itu pergi. Maafkan aku yaa Allah…
“Eh, jambreett…copeett…!!!” teriak si ibu histeris saat tangan kecil Senja meraih dompet dalam tasnya yang terbuka.
Orang-orang di sekelilingnya rebut, tengak-tengok lalu pandangan mereka tertuju pada satu arah. Anak perempuan yang lari membawa dompet merah di tangannya.
Bertahan, Jingga…jangan mati! . Senja sudah tak perduli berapa puluh orang dewasa mengejarnya. Yang ada di kepalanya adalah sesegera mungkin membawa adiknya yang sekarat ke dokter yang bisa menyembuhkannya. Jalanan ramai bukan halangan untuk dia menerobos motor dan mobil yang memadatinya.

BRAKK!!!

Kejadian itu sangat cepat. Sebuah benda keras menghantam tubuh kurus Senja. Senja terhempas di jalan raya. Sakiit… tapi dompet itu masih kuat di genggamannya.
Tuhan, ambil saya saja…
Matanya masih melihat genangan merah di atas aspal. Kepalanya menjadi berat. Sepertinya terantuk badan trotoar saat badannya mulai limbung kebawah. Riuh-rendah orang-orang di sekitarnya juga semakin tak terdengar. Dalam pandangannya semua berubah menjadi gelap. Pekat.
Jingga, maaf…


Pada waktu yg sama, di teras bekas bioskop di tepi jalan, seorang gadis berumur 6 tahun tertatih-tatih bangkit dari posisi tidurnya. Pandangannya kabur, mencari-cari sosok kakak yang biasanya selalu ada di sisinya. Bibirnya bergetar menyebut nama itu. “Kakak…kak senja dimana?”. Dengan berpegangan pagar, tubuh lemah itu mulai meniti pinggir jalan raya itu. Mencari saudaranya yang berjanji kembali untuk mengobati sakitnya saat ini.

Sabtu, 31 Desember 2011

Nice Quotes...(Hey, this is really my own words!!)

Jikalau harimu mendung hari ini,
itu bukan karena matahari enggan menyinari,
Hanya saja ada awan hitam yg menutupi cahyanya,

Sibak, sibakkan awan itu...
biarkan sinarnya menembus relung jiwamu,
mencairkan hati yg beku,
memberi secercah semangat baru...


Analog dgn hal itu,
ketika hati terasa sepi,
bukan, bukan Allah yg meninggalkanmu pergi,
tapi hanya jiwa kita yg menarik diri,
dari rengkuhanNya...kasih Yang Hakiki...


Jumat, 30 Desember 2011

Kinan's Diary: "Keputusan Kinan"

Kinan masih saja memegang handphone-nya. Sesekali membuang nafas, seolah ingin menghapuskan awan hitam yg bergelayut di kepalanya.
"Kinanti, Juli 2012 km wisuda kah? Humm, Ok.. klo bgitu september 2012 tunggu kejutan dariku. With love. Adrian."
Tangannya memencet tombol di ponselnya. Pilihan, hapus. Lalu ditinggalkannya benda itu di meja.
Sebenarnya itu bukan kejutan, menurutnya. Dia bahkan mungkin bisa menebak apa yg akan terjadi september 2012, menurut rencana Adrian, mantan pacar-nya itu. Datang ke rumah, bawa orang tua, membicarakan pinangannya pada Kinan. Hufft, Kinan sudah hampir muak membayangkan itu.
"Kenapa dgn Adrian? bukankah dia orang yg sangat setia menunggumu hampir 7 tahun lamanya, setelah secara sepihak kamu putusin dia tanpa alasan yg jelas? Kurang apalagi,Kin?"
Kinan bahkan sudah malas menjawab pertanyaan2 serupa yg diserangkan padanya bertubi-tubi. Dari teman2 lamanya yg...yahh, tentu saja ada di pihak Adrian.
Setia, katanya? Hahh, jangan membuatku tertawa. Itu mnurut kalian, cobalah buka mata kalian, apakah kesetiaan itu ditunjukkan dengan dia berpacaran dengan 2 wanita lain setelah putusnya mereka?, batin Kinan.
Mereka bukannya tidak tahu. Bahkan mreka mengenal perempuan2 yg singgah di hidup Adrian itu. Tapi menurut mereka, mereka tidak lebih baik daripada Kinan untuk mendampingi Adrian. Seperti halnya yg Adrian katakan padanya semester lalu. Hahh?! Siapa yg gila sih ini sebenarnya??


"Kak, aq di-add mas Danu Setia Hardana. Temen deket kakak kah? Humm, capek e aq bales chat-chatnya dia, yg mski diawali dgn 'Assalamu'alaikum, apa kabar?' ending2nya mesti,'salam ya, buat kak Kinan'..."lagi-lagi Ovy, adik kesayangannya mengiriminya sms berisi protes.
Haha, dia itu protes karena capek 'meladeni' tmn laki2 kakaknya, atau protes karena bukan dia yg diperhatikan? Entahlah...
Danu, apa yg kurang dr dia. Teman seperjuangannya dulu di Osis SMA. yang sebenarnya tak terlalu dekat dengan Kinan. Entah kenapa akhir2 ini menunjukkan gelagat aneh di mata Kinan.
"Keluargaku baru aja dr Jogja. Mama nitipin oleh2 buat kamu" katanya waktu main ke kampus Kinan, 'hanya' untuk mengantarkan oleh2 'dari mamanya'. Ehmm, klo saja Kinan mengenal siapa mama Danu, mungkin takkan jadi masalah, tp namanya saja Kinan ga pernah dengar, lah kok tiba-tiba beliin oleh2??
"Kin, hukumnya ninggalin shalat jumat pas di perjalanan itu gmn ya?" dan serentetan pertanyaan berbau Islam, selalu menjadi awal pembicaraan panjang Kinan dengan Danu. Akhir-akhir ini saja. Dulunya Danu bahkan jarang menyapa Kinan, meski mereka sering bertatap muka saat rapat Osis.
Kinan, dan beberapa teman dekat Danu melihat itu sbuah perubahan positif. Tapi Kinan jadi merasa aneh, ketika Danu mulai menceritakan masalah2 'private' kepadanya. Tentang Dilla dan mengapa mereka putus. Ahh, tolonglah..sebenarnya Kinan tak mau tahu. Tapi, 'atas nama persahabatan' Kinan mau juga jadi pendengar setianya.


Kinan iseng membuka2 inbox emailnya. Bukan mau nostalgia, tapi entah kenapa, hatinya tergelitik untuk membaca2 kembali beberapa 'surat cinta' yg terkirim untuknya. Semuanya dari satu alamat...Dzikri_dzikrullah@yahoo.com
dan dia mulai memutar memori, bagaimana perasaannya dulu menerima email2 indah dari orang yang dikaguminya. Seorang muslim yg baik, tampan, dan juga cerdas. Tapi, perasaan itu berubah menjadi kesal luar biasa, ketika secara tak sengaja dia mendengar dari percakapan teman2nya, bahwa mereka pun mendapat perlakuan yg sama dr laki-laki itu.
Kinan marah. Tapi ia bisa mengatasi marahnya. Dengan tangan bergetar, ia mengirim sms pada laki-laki itu "Assalamu'alaikum. Maaf, kak...Kinan hanya ingin klarifikasi. Apa maksud kakak mengirimi Kinan file-file pernikahan, rencana-rencana hidup kakak, memperkenalkan profil keluarga kakak pada Kinan? Kinan nggak ngerti. Bener2 nggak ngerti"
Tak lama benda itu berdering. Balasan dari laki-laki itu,"hehehe, maaf ya dik Kinan, kakak hanya ingin sharing aja kok..tentang rencana2 kakak dan juga cerita tentang pengalaman2 kakak 'berproses' dengan beberapa orang dan gagal...yahh, supaya dik Kinan bisa mnegambil hikmahnya saja."
"Jadi, tidak ada 'tujuan khusus'?? Lantas, kenapa kakak menceritakan ttg keluarga kakak, dan kata kakak sudah menceritakan ttg saya ke ibu kakak? maksudnya apa?" Kinan menahan napas saat pesan itu terkirim. sedikit merasa menyesal, takut ia dianggap GR, egonya menentang hal itu, tapi rasa ingin tahu itu sudah membuncah. Sebenarnya apa niatan laki-laki itu?
Ponsel Kinan berdering lagi, agak deg2an ia membukanya. Ada satu sisi hatinya berharap jawaban itu akan membuatnya berbunga2 setelah membacanya. Tapi di sisi lain, ia takut akan kecewa.
dan sisi lain itulah yg benar. "Hahaha, maaf sekali lagi lho dik Kinan, kalau apa yg saya kirim selama ini sudah membuat adik sangat berharap pada saya. Sungguh, saya tidak memiliki niat apapun. Bukan, bukan maksud saya mengatakan dik Kinan tidak cocok dengan saya. Tapi, entahlah..banyak pertimbangan yg harus dipikirkan sebelum saya mengambil langkah sejauh itu"
Aarrrgghhh...kalau saja Kinan tidak ingat ponsel satu-satunya itu amanah dari orangtuanya, sudah ia banting benda itu. Dia malu. Muak. Kesal dengan dirinya sendiri. God! Jadi selama ini dia hanya 'salah paham'?? Lantas bagaimana dengan gadis2 yg lain itu?? sakit hati juga kah mereka diperlakukan seperti ini? Membayangkannya saja sidah ngeri, jika ada yg sudah terlanjur menyerahkan hatinya pada laki-laki labil itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kinan menangis karena laki2. Dia sudah salah jatuh hati.


"hei, apa kabar? sudah lama tak berjumpa? Gimana dengan skripsimu,Kin? Aq berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi ya, dgn keadaan yg sangat baik"
lagi-lagi sms dr Dio. Teman masa kecilnya. Rumah mereka tak jauh sebenarnya. Tapi Dio tipe anak laki-laki yg manis dan sangat pemalu. Jangan harap dia mau main k rumah Kinan. Belakangan dia tahu, itu karena Dio menaruh hati padanya.
Dia baik. Sopan. Polos. Belum pernah pacaran. Orang tua mereka saling mengenal. Tapi, jangan pikir itu sudah cukup bagi Kinan untuk menyukainya. Dia memang teman yg baik. tapi tidak untuk lebih dari itu. Dia kekanakan. dan itu sudah cukup membuat Kinan lelah membayangkan bagaimana harus mengarungi hidup dengan orang yang kedewasaannya di bawah level Kinan. Selebihnya, seperti perempuan yg lain yg memiliki kualifikasi untuk calon imam yang akan membimbing hidupnya, Dio masih jauh dr yg Kinan harapkan.
Sepertinya itu lebih dari cukup, alasan Kinan untuk tidak membalas sms2 sapaan hangat dari Dio.


Juni, 2012
"Ayah,,Kinan ingin bicara" suaranya agak bergetar ketika memulai kalimat itu.
Ovy menghentikan makannya. Ibunya yg sedari tadi memang tak melakukan apa2 memandangi putri sulungnya itu dengan tatapan meyakinkan. Sang ayah membetulkan posisi duduknya.
"Ada apa to? kok kayaknya serius,hm..?"Ayahnya mulai memutar seluruh badannya, tanda menanggapi niat putrinya yg seolah berat mengatakan niatnya.
"Kinan pengen nikah." jawabnya pendek. Sebenarnya itu karena dia tak mampu menahan gemuruh dadanya yg kian kencang saat harus benar2 berhadapan dengan laki-laki nomor satu dalam hidupnya sekarang ini.
Ovy menjatuhkan sendoknya, ga percaya dgn omongan kakaknya barusan.
"hahahaha, yo bagus lah...ayah kira kamu nggak pengen nikah."seloroh ayahnya tak serius.
Kinan mengerutkan keningnya,"Ayaaahh..." Kinan merajuk, menunjukkan watak aslinya.
"Kapan?"tanya ayahnya, serius kembali.
"Bulan depan. Setelah wisuda. Itu juga kalau Ayah mengijinkan." Kinan melanjutkan kalimatnya, terbata. Ovy ikut menahan napas. Sementara ibunya yg memang sudah mengetahui rencana ini, hanya diam saja. Sama-sama menunggu reaksi kepala rumah tangga mereka.
"Kamu yakin?" Kali ini ayah Kinan membetulkan kacamatanya.
Sembari mengambil napas panjang, Kinan berucap basmallah dalam hatinya. "Insya Allah"
Ayah Kinan hampir beranjak bangun dari duduknya, sebelum beliau mengatakan,"Suruh 'dia' datang menghadap ayah", dan langkah beliau pun diikuti tatapan tak mengerti ketiga wanita permata hatinya itu.


"Sudah siapkah kamu, Kinanti Astaria Putri?? Siapkah kamu menjalani hidupmu tak lagi sendiri? Siapkah kamu menanggung beban dua kali lebih besar daripada bebanmu sendiri? Siapkah kamu untuk diterima atau tidak diterima oleh keluarga yang akan menjadi keluarga barumu? Siapkah kamu untuk menomrsatukan laki-laki yang baru saja kamu kenal, dibandingkan ayah? Siapkah kamu menerima kenyataan jika ayah tidak menyetujui niatmu??" Segudang pertanyaan memenuhi rongga kepala Kinan, mendengung...menggema berulang2, membuat kepalanya kian berat. Tapi ucapan laki-laki itu sangat dalam buatnya, meski dilafalkan dengan sangat sederhana.
"Mungkin harus seperti ini Allah mempertemukan kita. Dengan cara yang sama sekali tak kita duga. Di tempat yang tak pernah kita rencanakan. Maaf, jika saya memiliki ketertarikan pada adik. Tapi, tolong jangan ragukan niat baik saya untuk menyempurnakan separuh dien bersama dik Kinan"


"Sama siapa kak?"tanya Ovy, penasaran.
"Lihat saja besok" jawab kinan pendek.
"Yahh..kq gtu sih?? Namanya siapa?" Ovy mendekatkan kepalanya ke kakaknya yg tidur bersebelahan dengannya.
"Yg jelas belum terlintas di kepalamu" Kinan berbalik, membelakangi adiknya. Ovy mendengus kesal. Memangnya siapa? Apakah orang yg belum pernah Kinan ceritakan padanya? Masa sih? Karena menurutnya, Kinan adalah orang yang paling tidak bisa merahasiakan sesuatu pada adik semata wayangnya itu. Siapa? Kak Adrian, Kak Dio, Kak Dzikri, Kak Danu? Siapa lagi??
"cakepan mana sama kak adrian, kak?" tuntutnya. Karena baginya, dari sekian banyak laki-laki yg perah ia dengar namanya dan ia tahu orangnya, cuma Adrian-lah yg paling mengesankan. Ahahaha,siapa yg ga mau punya kakak ipar blasteran luar negeri begitu. Pasti membanggakan sekali kalo itu beneran kak Adrian-nya.
"Dasar abege, jangan liat dr fisiknya aja dong!" Kinan berbalik kembali menghadap adiknya.
"Meski nanti abangmu ga secakep Adrian, tp dia ga kalah baik kok, InsyaAllah...lagian, kamu seneng kan liat kakak seneng?" Kinan menatap mata adik kecilnya itu.
"Hmm, tp liat2 dulu yaa, klo jelek banget mah jangan..."rajuk si kecil Ovy. Bagaimana pun, meski uumur Ovy sudah menginjak 15 tahun, bagi Kinan, dia tetap adik kecil kesayangannya.
Tangan Kinan terjulur untuk menarik hidung adiknya dengan rasa sayang. "Auw! kebiasaan ah, ini kakak! sakit tau!" protesnya. Dan Kinan tak menggubrisnya, malah menarik selimut dan menutupi mukanya.
Ovy melirik kakaknya yg tak kelihatan lagi mukanya, sambil menerawang sedih. Mungkin sebentar lagi dia akan tidur sendiri, tanpa kakak satu2nya yg dia miliki itu.


Kinan keluar dari dapur untuk menyuguhkan 3 cangkir teh yg dibuatnya untuk kedua orangtuanya dan satu tamu 'istimewa' dirumahnya itu. Berkali-kali ia berhenti melangkah, hanya untuk mengambil napas dalam, demi menenangkan pikirannya yg berkecamuk dan juga membetulkan posisi tangannya sehingga gemerutuk cangkir yg dipegang diatas nampannya tak terdengar, menandakan gemetarnya kedua tangan Kinan.
Kinan segera undur diri, setelah meletakkan cangkir2 itu diatas meja. tak sedikitpun ia melirik laki-laki 'asing' yang menghadap kedua orang tuanya itu. Hanya saja sekilas ia melihat senyum kecil di bibir ibunya, dan itu sudah cukup membuat hatinya tenang.
"Kak, kak...kenapa sih kakak memilih abang itu? bukankah ada banyak pilihan untuk kakak?"sekali lagi Ovy memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
Kinan menarik tangan adiknya untuk duduk di teras belakang rumah mereka. jaga-jaga, supaya pembicaraan mereka tak sampai ke ruang tamu.
"Kakak memang belum lama mengenal abang itu. Tapi kakak kira tak butuh waktu yg lama untuk lebih mengenalnya. Yang jelas, Ovy...kesiapan itu tiba2 datang, tanpa bisa kita prediksikan sebelumnya. Yang jelas, dengan ijin Allah, kakak sudah mantap meilihnya..."
seolah tak puas dengan jawaban kakaknya,"Kakak ga takut salah pilih? knp bukan dengan orang yg udah lama kakak kenal? yg jelas2 bisa membahagiakan kakak, menurutku sih..."
Kinan segera menjulurkan tangannya, tapi dicegah Ovy yg hapal dengan kebiasaan kakaknya kalau mulai gemas dengan adiknya itu. "Materi memang sarana untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kebahagiaan tak semata2 karena materi. Abang itu memang banyak kekurangan, tapi justru dengan hal itu, kakak bisa belajar untuk melengkapinya. Kalaupun ada yg sama, akan menjadi saling menguatkan..."
Ovy tak tahan lagi untuk memeluk kakaknya. Kinan salah tingkah,"hei, kamu kenapa sayang?"
"Ovy sayang kakak...Ovy percaya apa yg menjadi pilihan kakak"
Kinan melepaskan pelukan adiknya perlahan. "Ovy jagain ayah sama ibu ya?"
"InsyaAllah kak...Eh, aq ga bisa bayangin reaksinya kak Adrian pas nerima undangan dari kakak nanti, hehehe..."Ovy menjulurkan lidahnya.
"Hussy, udah ah...Yuk ke depan, liat perkembangan perjuangan abangmu melumpuhkan ayah" Kinan tertawa. Dan Ovy baru melihat senyum selebar ini pada kakaknya, setelah beberapa waktu lalu tampak tertekan dengan beberapa laki-laki yg singgah dalam hidup Kinan.
"barakallah, kakakku..." bisiknya.

Selasa, 15 November 2011

Life must go on and life is never flat!

Ijinkan (sekali lagi) saya curhat yaa…:p
Hmm..ini tentang keajaiban dan harapan. Beberapa saat yang lalu, saya merasa hidup begitu berat ketika harus memutuskan sesuatu. Ini bukan tentang saya pribadi, tapi keputusan ini juga akan menyangkut orang banyak, orang-orang yang mencintai saya, yang telah banyak mengorbankan apa yang mereka miliki untuk kemaslahatan hidup saya (*berat amat bahasanya, :p).

Karena masalah ini, rasanya pintu kesempatan semua tertutup. Porsi prioritas saya tersita. Konsentrasi saya pecah, lbh bnyk untuk memikirkan hal itu. Padahal, menurut orang-orang d sekitar saya, tak seharusnya saya meninggalkan pekerjaan yang lain ‘hanya’ karena masalah ini. tapi, apa daya..karena kemampuan konsentrasi saya rendah, akhirnya masalah ini pun harus beranjak ke nomor atas untuk segera dicarikan solusinya, dan akibatnya beberapa masalah lain harus terabaikan.

Professional dan proporsional (*uda kyk jargon apaa gt! :D). mungkin bukan hal yg mudah untuk dilakukan. Terbukti, karena hal ‘ini’ saya jadi agak mengesampingkan perkara lain yg sebenarnya tak kalah penting. Akhirnya, satu keputusan telah terambil. (mungkin) agak menyakitkan buat beberapa pihak, tp every decision has consequences, right?. Okelah, klo karena keputusan itu saya berubah menjadi tokoh antagonis bagi beberapa orang, saya terima, mski saya (bnar2) tidak menginginkannya. Bukan mudah untuk memutuskan hal ini, karena sekali lagi ada segudang pertimbangan yg membuat saya surut-maju mengambilnya. Tapi life must go on, saya nggak mau hidup saya stuck di titik ini. saya harus bergerak, klo ga mau terlindas (*tuh, kn slogan lagi,:D).

Ada pihak yang menyayangkan keputusan saya, dan memberikan asumsi2 yg (sekali lagi) menggoyahkan tekad saya. Jujur, itu sempat membuat saya hilang arah (disorientasi) beberapa hari terakhir. Fokus saya kembali terdominasi akan hal ini, padahal niat saya sudah ingin meninggalkan yg ‘ini’ dan mulai mngerjakan yg lain.

Kemudian, muncul orang2 ‘lama’ dalam hidup saya. Mereka pernah ‘ada’ dalam hidup saya, sebentar, tapi pengaruhnya luar biasa. Mereka adalah adik, sahabat, yang telah memberikan pelangi dalam putih sejarah hidup saya. Ungkapan2 mereka, kalimat sederhana mereka, mengingatkan saya pada ‘mimpi’ saya yg terdahulu. Yang sempat terusik prioritasnya oleh masalah ‘itu’. Ok, saya putuskan untuk banting stir, kmbali k jalan yg benar,:p

Masalah yg lalu ‘itu’ bukannya tidak penting. Bagi saya, semua tantangan hidup qy itu semuanya penting. Penting karena memberikan banyak pelajaran hidup, penting karena memberikan qt kesempatan untuk ‘berpengalaman’, penting bahwa qt jadi tw banyak yg mnaruh perhatian pada qt dan siap mengurlurkan tangannya ketika qt terjerembab jatuh dan sulit untuk bangkit. Semua episode dalam hidup qt itu penting untuk membentuk karakter dan kepribadian qt.

Orang2 ‘lama’ itu mengungatkan saya untuk tetap bersyukur dan optimis. Sederhana bukan? Tapi maknanya luar biasa… dan ketika qt mrasa sendiri dan tak kuat lagi menerima masalah yg datang bertubi2, masih ada ‘backing’an Yang Maha Tak Terbatas. Allah, yang mski secara tak langsung qt sangsikan ‘kehadiranNya’. Namun secara ‘nyata’, kehadiranNya itu berwujud harapan, sebuah keajaiban ketika qt pernah berniat mengakhiri segala masalah hidup dengan cara yg tak baik. Harapan itu bisa hadir dengan sendirinya ketika qt berserah full kepadaNya, pasti ada kehangatan di tengah jiwa qt yg sunyi dan dingin.

Akhirnya, sebuah langkah sederhana tapi ‘besar’ telah saya tetapkan. Bukan untuk bertahan pada satu titik dimana akan dapat menghabiskan waktu dan energy saya untuk memikirkannya. Banyak rentetan impian menunggu untuk diwujudkan. Bukannya tidak konsisten, tapi untuk apa bertahan pada konsistensi yg ‘tidak menguntungkan’??

Life must go on and life is never flat, kn?? 


*Special thanks to : adik2 binaan Bidik Misi Unair 2010, dan teman2 yg senantiasa mendampingiku berusaha menggelitik hatiq dgn nasehat2nya, saat mulut tak lagi mw bersuara, telinga bebal mendengar…Uhibbukum fillah…